Wednesday, September 2, 2026
Home Blog

Kisah cinta dan genk motor “Agaskar” diangkat ke Maxstream TV

0
Unlimited Production resmi mengumumkan jajaran pemeran utama dari series “AGASKAR”. Jeremie Moeremans, Vonzy, dan Fahad Haydra dipastikan bergabung dalam proyek ini untuk membawa kisah Agaskar, Arazey, dan Wave ke layar.
Presscon Series Agaskar
Presscon Series Agaskar

Jeremie Moeremans akan memerankan Agaskar, sosok ketua geng motor Wolviper yang dikenal keras, emosional, dan memiliki jiwa kepemimpinan kuat. Di balik sikapnya yang penuh ego dan sulit dikendalikan, Agaskar menyimpan rasa keadilan yang membuatnya harus menghadapi pilihan besar dalam perjalanan hidupnya.

Vonzy hadir sebagai Arazey, karakter perempuan cerdas, berani, dan memiliki pendirian kuat di “AGASKAR”. Terjebak dalam perjodohan yang tidak ia inginkan, Arazey berusaha memperjuangkan keyakinannya sekaligus mencari kebenaran di balik kasus yang menyeret orang yang ia cintai.

Sementara Fahad Haydra dipercaya memerankan Wave, pemimpin geng motor Walerus yang menjadi rival utama Agaskar. Meski dikenal sebagai sosok yang berseberangan dengan Agaskar, Wave memiliki sisi lain yang penuh kesetiaan dan pengorbanan.

Presscon Series Agaskar
Presscon Series Agaskar

“AGASKAR” menghadirkan kisah tentang perseteruan dua geng motor yang berubah menjadi perjalanan mengungkap kebenaran, menghadapi masa lalu, serta menemukan arti cinta dan pengorbanan. Pertemuan Agaskar, Arazey, dan Wave menjadi pusat konflik yang membawa cerita penuh emosi, rahasia, dan kejutan.

Cerita “AGASKAR” sebelumnya telah mencuri perhatian pembaca melalui platform digital dengan jutaan pembaca dan menjadi salah satu kisah yang ramai diperbincangkan di media sosial. Kini, perjalanan Agaskar dan para karakter lainnya siap memasuki babak baru melalui adaptasi layar.

Dengan Dinna Jasanti sebagai sutradara, “AGASKAR” dipersiapkan untuk menghadirkan pengalaman visual yang membawa atmosfer rivalitas, romansa, dan drama emosional yang menjadi kekuatan utama cerita.

Presscon Series Agaskar
Presscon Series Agaskar

Series ini diadaptasi oleh MAXSTREAM TV dan diproduksi oleh Unlimited Production dengan Oswin Bonifanz sebagai produser, disutradarai Dinna Jasanti, serta ditulis oleh Cassandra Massardi.

Deretan pemain yang membintangi Agaskar antara lain Jeremie Moeremans, Vonzy, Fahad Haydra, Shania Gracia, Marsha, Ratu Aulia, Adel Reva, Ryan Winter, dan beberapa pemain lainnya.

Jangan lewatkan Series Agaskar, tonton hanya di MAXSTREAM TV.

Amagra bereksplorasi penuh di album terbaru “Butterflies”

0
Amagra, penyanyi remaja asal Indonesia, memperkenalkan “Butterflies”, sebuah album yang menjadi kelanjutan dari perjalanan musikalnya bersama Ninenote Music. Di tengah lanskap musik yang bergerak cepat dan tren yang silih berganti, khususnya di kalangan Gen Z, Amagra memilih untuk tidak sekadar mengikuti arus, melainkan membangun musik berdasarkan karakter vokal, cerita, dan emosi yang ingin ia sampaikan.
Amagra
Amagra

Pilihan tersebut sejalan dengan komitmen Ninenote Music dalam menghadirkan karya melalui proses produksi yang melibatkan musisi, pencipta lagu, penyanyi, serta para profesional dengan pengalaman di bidangnya. Ninenote Music dikembangkan sebagai label rekaman boutique asal Indonesia dengan orientasi untuk membangun karya dan talenta yang memiliki kualitas serta daya jangkau internasional, termasuk dengan perilisan album Amagra ini.

Dalam proses tersebut, Amagra kembali bekerja bersama Aminoto Kosin dan Irvnat, dua sosok yang telah terlibat sejak awal perjalanan musikalnya. Dari proses kreatif yang mereka bangun bersama, lahirlah “Butterflies” sebagai sebuah album yang membawa Amagra ke tahap berikutnya, dengan pendekatan musik yang tetap mempertahankan karakter vokalnya sekaligus memberi ruang bagi perkembangan musikalnya.

Salah satu kekuatan album ini terletak pada kedekatan tema lagu dengan dunia Amagra sebagai seorang penyanyi remaja. Lagu-lagu yang dihadirkan berbicara mengenai cinta dan berbagai perasaan yang bersifat universal; tentang rasa suka, rindu, kehilangan, kebingungan, hingga proses menerima keadaan. Meski berangkat dari pengalaman personal Amagra, cerita dan emosi yang hadir dalam “Butterflies” tidak terbatas pada usia atau generasi tertentu.

Tema-temanya dekat dengan kehidupan sehari-hari dan tetap relevan dengan pengalaman banyak orang di masa kini, sehingga setiap pendengar dapat menemukan cerita dan perasaan yang relate dengan dirinya.

Konsep “Butterflies” tidak berhenti pada judul album, tetapi menjadi benang merah yang menghubungkan musik, cerita, dan identitas visualnya. Gagasannya berangkat dari gambaran seekor kupu-kupu kecil yang, melalui kepakan sayapnya, dapat menjadi simbol dari dampak yang jauh lebih besar. Bagi Amagra, gambaran tersebut merepresentasikan sesuatu yang mungkin terlihat kecil dan lembut, tetapi memiliki kekuatan untuk menghasilkan pengaruh yang luar biasa.

Gagasan tersebut berjalan beriringan dengan konsep “Badai Perasaan” yang menjadi dasar emosional album. “Butterflies” menjadi ruang bagi Amagra untuk menuangkan berbagai perasaan yang pernah ia lalui ke dalam karya; mulai dari kebahagiaan, kesedihan, kerinduan, hingga tahap ketika ia mulai menerima dan berdamai dengan setiap musim yang dirasakan. “Badai” dalam konsep ini menggambarkan gejolak dan perubahan emosi yang datang silih berganti dalam perjalanan seseorang.

Amagra
Amagra

Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam rangkaian visual album. Nuansa yang lebih gelap merepresentasikan fase ketika perasaan berada dalam badai, sementara sosok kupu-kupu tetap hadir sebagai simbol harapan, gerak, dan kekuatan yang tidak hilang di tengah gejolak. Setelah melewati fase tersebut, perjalanan visual “Butterflies” bergerak menuju suasana yang lebih hangat melalui rangkaian visualizer.

Pemilihan kata “Butterflies” juga terasa dekat dengan karakter Amagra sendiri. Satu kata yang sederhana dan indah, tetapi menyimpan kekuatan di baliknya. Seperti sosok Amagra yang tampak lembut namun memiliki keberanian untuk menentukan warna musiknya sendiri, “Butterflies” membawa pesan bahwa sesuatu yang indah tidak selalu berarti rapuh.

Konsistensi Ninenote Music dalam melahirkan karya berkualitas kembali terlihat melalui proses produksi “Butterflies”. Amagra, yang sejak awal dibentuk dan dikembangkan melalui tangan dingin Aminoto Kosin dan Irvnat, kembali menjalani proses kreatif bersama keduanya untuk menghasilkan album yang sesuai dengan karakter dan perkembangan musikalnya.

Aminoto melihat salah satu tantangan utama dalam proses penggarapan album adalah menemukan komposisi musik dan lirik yang tepat untuk karakter Amagra. Tantangannya bukan hanya menciptakan lagu yang terdengar baik, tetapi juga memastikan cerita, pilihan kata, melodi, dan aransemen dapat terasa natural ketika dibawakan oleh seorang penyanyi remaja.

Selain tim yang telah mendampingi Amagra sejak awal, The Kennel turut tertarik untuk berkontribusi setelah melihat dua karya Amagra yang telah dirilis sebelumnya. Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan karya-karya yang tidak hanya relevan saat dirilis, tetapi juga memiliki karakter yang dapat bertahan dan dinikmati dalam jangka panjang.

Kehadiran musisi internasional dalam proses penggarapan “Butterflies” turut memberikan warna dan perspektif baru bagi album ini. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari perjalanan kreatif Amagra dalam mengeksplorasi musik yang lebih luas, sekaligus memperkuat karakter vokal dan identitas musikal yang ingin ia bangun.

Amagra
Amagra

“Butterflies” memuat tujuh lagu utama, yaitu “Butterflies, Masih Rindu, Big Girls Don’t Cry, Bilang Saja, Jalan Buntu, Ribbons in the Sky” dan “Sing”. Rangkaian lagu tersebut memperlihatkan spektrum emosi yang beragam sekaligus memperkuat pendekatan Amagra dalam menjadikan musik sebagai medium yang personal, dekat, dan tetap memiliki karakter tersendiri.

Perjalanan Amagra terus menunjukkan perkembangan sejak debut profesionalnya. Karyanya kini telah menghasilkan lebih dari 800 ribu streams di Spotify dengan total 226 juta views dalam 20 ribu postingan yang menggunakan sound lagu Amagra di social media. Perjalanan tersebut juga mencakup pengalaman kolaborasi internasional dan proyek bersama orkestra.

Melalui “Butterflies”, Amagra melanjutkan perjalanan tersebut dengan karya yang semakin merepresentasikan dirinya. Album ini menjadi kesempatan bagi publik untuk mengenal Amagra lebih jauh, bukan hanya melalui karakter vokalnya, tetapi juga melalui keterlibatannya dalam proses kreatif dan keberaniannya membangun identitas musikal sendiri.

Ke depan, Ninenote Music dan Amagra ingin terus mengembangkan karya yang mengutamakan kualitas, karakter, dan cerita yang dapat bertahan melampaui tren sesaat. Butterflies menjadi salah satu langkah dalam perjalanan tersebut, sebuah karya yang lahir dari proses, kolaborasi, dan keinginan untuk menghadirkan musik yang tetap abadi.

Afterhour Vol.1 gigs, sebuah ekosistem musik baru di ibukota

0
Yello Artspace dan Yello Harmoni Hotel kembali menghadirkan ruang kreatif bagi para pelaku musik melalui Afterhour Vol.1, sebuah acara yang mempertemukan musik, kreativitas, dan kolaborasi lintas talenta. Dalam gelaran perdananya, Yello Artspace berkolaborasi dengan GVU World dengan menghadirkan emerging artist Bryan Zparta dan duo musik asal Bogor, Billkiss.
Bryan Zparta
Bryan Zparta

Afterhour Vol.1 menjadi episode perdana dari rangkaian program yang dirancang sebagai wadah apresiasi dan eksplorasi musik. Kehadiran Bryan Zparta, billkiss, DJ Riva dan Komika Sarif memberikan warna tersendiri sekaligus memperkenalkan karakter dan karya mereka kepada audiens yang lebih luas.

Dalam episode perdana ini, Afterhour mengangkat tema “Lagu Timur Punya Cerita”, sebuah konsep yang membawa cerita, nuansa, serta kekayaan musikal dari Indonesia Timur ke dalam ruang pertunjukan yang lebih dekat dengan para penikmat musik.

Billkiss
Billkiss

Antusiasme juga terlihat dari para tamu undangan Yello Harmoni Hotel yang hadir dan mengikuti jalannya acara. Mereka menunjukkan animo positif terhadap konsep yang ditawarkan, mulai dari menikmati penampilan musik hingga mengikuti atmosfer kolaborasi yang dibangun sepanjang acara.

Respons tersebut menjadi sinyal positif bahwa program seperti Afterhour memiliki ruang untuk terus berkembang. Ke depan, Afterhour direncanakan hadir secara rutin setiap bulan, dengan menghadirkan episode, tema, serta kolaborasi bersama talenta-talenta kreatif yang berbeda.

Sarif
Sarif

Kolaborasi antara Yello Artspace, Yello Harmoni Hotel, dan GVU World menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem kreatif yang mempertemukan musisi, komunitas, industri, dan penikmat seni dalam satu ruang.

Bagi Billkiss, keterlibatan dalam Afterhour Vol.1 menjadi kesempatan untuk memperluas ruang eksplorasi sekaligus memperkenalkan karakter musik mereka kepada audiens baru. Sementara itu, kehadiran Bryan Zparta sebagai emerging artist memberikan perspektif dan warna berbeda dalam episode perdana ini.

Melalui Afterhour Vol.1: “Lagu Timur Punya Cerita”, Yello Artspace ingin menunjukkan bahwa ruang kreatif dapat menjadi tempat lahirnya berbagai kolaborasi menarik sekaligus menjadi jembatan antara musisi dan audiens.

All team and artist After Hours Vol. 1
All team and artist After Hours Vol. 1

Dengan menggabungkan konsep hospitality, artspace, dan pertunjukan musik, Afterhour diharapkan dapat berkembang menjadi program rutin yang menghadirkan pengalaman berbeda di setiap episodenya.

Afterhour Vol.1 menjadi langkah awal dari sebuah gerakan kreatif yang mempertemukan ruang, musik, cerita, dan talenta baru dengan semangat untuk terus menghidupkan ekosistem musik dan seni secara berkelanjutan.

AFE Records luncurkan single debut pendatang baru, Lulu Mudita

0
Penyanyi cantik pendatang baru bernama Lulu Mudita baru saja merilis single debutnya yang berjudul “Apakah Kamu Orangnya”. Dirilis oleh label AFE Records, Lulu hadir dengan single manis yang di ciptakan oleh Bemby Noor, salah satu penulis lagu dari group 3 Composer.
Hendy Ahmad, Bemby Noor, Lulu Mudita dan Orang Tua Lulu
Hendy Ahmad, Bemby Noor, Lulu Mudita dan Orang Tua Lulu

Single pertama Lulu Mudita menghadirkan cerita jujur tentang keraguan untuk jatuh cinta, kesulitan kembali percaya kepada seseorang dan kebiasaan overthinking yang kerap membayangi anak muda dalam menjalin hubungan.

Hendy Ahmad dari AFE Records dan Bemby Noor selaku penulis lagu melihat potensi Lulu Mudita begitu besar dalam menekuni karir bernyanyinya. Bakat alami yang di miliki Lulu membuat kedua pelaku industri musik tersebut terpikat.

Lulu Mudita
Lulu Mudita

“Sejak mengadakan workshop bersama Bemby Noor dan Lulu Mudita merekam demo buat latihan saya sudah shock sedikit, biasanya penyanyi pendatang baru itu gak sekuat ini dalam menghayati lagu baru, saya saya terkejut dan punya feeling Lulu siap maju di industri musik Indonesia”, ungkap Hendy Ahmad.

Sementara itu, Bemby Noor yang sejak awal menulis lagu “Apakah Kamu Orangnya” ini mengaku harus merubah aransemen yang sudah di rencanakannya demi menyesuaikan dengan karakter dan power vokal Lulu Mudita yang sedemikian kuat.

“Awalnya lagu “Apakah Kamu Orangnya” ini direncanakan akan di aransemen ala ala musik folk atau senja – senja an gitu, ternyata setelah saya dengar materi vokal Lulu yang sangat kuat tersebut membuat saya merubah rangkaian aransemen demi untuk mengeksplorasi vokal Lulu lebih luas lagi karena Lulu punya potensi bernyanyi yang lebih dari itu”, jelas Bemby Noor.

Mencintai musik sejak usia dini, Lulu telah terbiasa bernyanyi sejak kecil dengan dukungan penuh dari kedua orang tuanya. Dukungan orang tua menjadi fondasi kuat yang membawanya pada langkah baru memperkenalkan karakter dan warna vokainya kepada publik lewat karya.

Tumpengan rilis single debut Lulu Mudita
Tumpengan rilis single debut Lulu Mudita

Lulu sendiri sangat bersemangat menyambut perilisan single debutnya ini, menurut Lulu, lagu perdananya ini membawa pesan kepada penikmat musik Indonesia yang harus dia sampaikan dengan sebaik – baiknya melalui eksplorasi bernyanyinya.

“Lewat lagu ini, aku ingin menyampaikan perasaan yang mungkin pernah dirasakan banyak orang. Kadang kita ingin jatuh cinta, tapi saat yang sama kita takut salah memilih, takut terluka, atau terlalu banyak berpikir. Jaci, akhirnya kita terus bertanya-tanya, Apakah kamu orangnya?” Demikian pesannya semoga relate dengan pendengar lagu ini”, tutur Lulu Mudita.

Single debut Lulu Mudita ini tidak hanya merilis audio nya saja melainkan juga video musiknya yang sangat istimewa karena turut dibuat bernuansa drama Korea. Dengan pendekatan storytelling yang emosional dan sinematik, visual di video musiknya tersebut menerjemahkan setiap fase perasaan dalam lagu: rasa penasaran, ketertarikan, keraguan, hingga pergulatan batin dalam menentukan apakah seseorang layak untuk dipercaya dan dicintai.

Prtesscon single debut Lulu Mudita
Prtesscon single debut Lulu Mudita

Sebagai debut, single ini menjadi awal dari perjalanan panjang Lulu Mudita di industri musik Indonesia, didukung penuh oleh Afe Records, Bemby Noor, dan orang-orang terdekat yang telah menemani perjalanan bermusiknya sejak kecil.

Single “Apakah Kamu Orangnya?” oleh Lulu Mudita telah dirilis dan dapat dinikmati melajuj seluruh platform musik digital.

Tampilkan musisi lintas generasi, “Konser Tribute To 2D” seru

0
Gelaran “Konser Tribute To 2D” buat duo musisi legenda Deddy Dhukun dan alm Dian Pramana Poetra yang tergabung dalam 2D sukses mengembalikan ingatan pecinta musik Indonesia yang hadir pada prosesi konsernya tadi malam di deConcert Room, Deheng House, Kemang, Jakarta Selatan. 
Konser Tribute To 2D
Konser Tribute To 2D

Konser musik yang diberi tajuk “Konser Tribute To 2D” ini adalah pertunjukan musik eksklusif yang di persembahkan oleh Deheng House bekerja sama dengan Bookcabin dan DMC dengan konsep menghadirkan kembali karya – karya legendaris dalam balutan pertunjukan yang penuh nostalgia, cerita, dan kolaborasi lintas generasi.

Di mulai sejak pukul 20.00 WIB, “Konser Tribute To 2D” yang dipandu oleh host Ade Andrini membuka acara dengan menampilkan group Pesona Tiga Suara, yang juga merupakan anak-anak dari Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra. Membawakan beberapa lagu legendaris dari 2D seperti “Jatuh Hatiku, Esok Kan Masih Ada, Sepanjang Jalan Tol” dan “Bohong”, Pesona Tiga Suara tampil enerjik seperti sedang menceritakan perjalanan musikal 2D dengan versi mereka sebagai generasi penerus 2D.

Pesona Tiga Suara
Pesona Tiga Suara

Melanjutkan penampilan keren dari Pesona Tiga Suara, berikutnya hadir Shandy Sondoro yang meng-interpretasikan lagu 2D berjudul “Semua Jadi Satu, Jakarta” dan “Aku Jadi Bingung” dalam balutan karakter vokal Shandy lebih bluesy serta penyanyi cantik, Andien membawakan lagu “Aku Ini Punya Siapa, O Ya” dan “Kau Seputih Melati” dengan warna vokal Andien yang lembut, menawan dan agak jazzy.

Kedua penyanyi nasional tersebut tampil hangat, intim dan penuh percaya diri di kawal oleh Audiensi band, sebuah group band pengiring artis yang sudah kaya pengalaman dan punya jam terbang tinggi mengiringi banyak penyanyi papan atas industri musik Indonesia. Penampilan yang matang dan permainan yang solid dari Audiensi Band membuat konser “Konser Tribute To 2D” sangat enak buat disimak oleh ratusan penonton yang hadir malam itu.

Shandy Sondoro
Shandy Sondoro

Sebelum Deddy Dhukun tampil penuh emosional bersama dengan para penampil tamu malam itu, Wijaya 80, sebuah group musik yang di gawangi oleh trio Ardhito Pramono, Erikson Jayanto dan Hezky Joe membawakan lagu – lagu 2D seperti “Yang Terbaik untuk Kita, Melati Di Atas Bukit, Melayang” dan “Keraguan”. Pergantian seluruh penampil dengan berbagai karakter musikal berbeda tersebut membuat repertoar 2D terdengar seperti kumpulan cerita yang melaju dengan penuh warna.

Di pamungkas acara, Deddy Dhukun, sebagai member 2D yang masih aktif berkarya hadir dengan elegan sekaligus sedih mengingat pasangan duonya, Dian Pramana Poetra sudah berpulang dan tidak bisa menemaninya diatas panggung. Momen ini menjadi salah satu titik emosional utama malam tersebut.

Andien
Andien

Menyanyikan nomor – nomor indah seperti “Puji Syukur, Biru, Masih Ada, Sebelum Aku Pergi, Kusadari, hingga “Jalan Masih Panjang”, Deddy Dhukun mengajak penonton untuk mengikuti perjalanan panjang karir 2D melewati lagu – lagu tersebut, lewat lirik lagu – lagu karyanya tersebut Deddy Dhukun bercerita tentang waktu, kehilangan, cinta, harapan, dan keteguhan untuk terus berjalan. Penampilan Deddy Dhukun dan para tamu penampil menjadi grand closing yang menawan di acara konser malam tersebut.

Konser “Konser Tribute To 2D” ini dirancang bukan sekadar sebagai rangkaian penampilan musik, tetapi sebagai sebuah perjalanan emosional. Setiap lagu yang dihadirkan akan membawa penonton menyusuri cerita dan kenangan di balik karya – karya yang dibawakan.

Wijaya 80
Wijaya 80

Deheng House melalui Direktur Utamanya, Amaliah Ananda Abadi, menyatakan komitmennya untuk selalu membuka ruang, memberikan kesempatan dan mendukung ekosistem musik Indonesia melalui acara – acara konser seperti “Konser Tribute To 2D”.

 “Deheng House percaya bahwa musik Indonesia memiliki kekuatan yang luar biasa, bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai bagian dari perjalanan budaya dan identitas kita. Karena itu, kami ingin Deheng House menjadi rumah yang terbuka bagi para musisi, kreator, dan seluruh insan yang ingin terus berkarya dan memberikan warna bagi perkembangan musik Indonesia.”

Amaliah juga menegaskan bahwa dukungan terhadap musisi tidak hanya berhenti pada penyelenggaraan sebuah konser.

Deddy Dhukun
Deddy Dhukun

“Kami ingin membangun ruang yang berkelanjutan. Sebuah tempat di mana musisi dari berbagai generasi dapat bertemu, berkolaborasi, bereksperimen, dan memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas. “Konser Tribute To 2D” adalah salah satu bentuk nyata dari semangat tersebut menghormati perjalanan para legenda, sekaligus membuka jalan bagi generasi berikutnya.”

Lebih jauh, DEHENG HOUSE berkomitmen untuk terus menghadirkan program-program musik yang berkualitas serta menjadi bagian dari pertumbuhan industri kreatif Indonesia.

All Artis
All Artis

“Kemajuan musik Indonesia adalah tanggung jawab bersama. Kami ingin mengambil peran,sekecil apa pun, untuk terus mendukung musisi dan karya-karya Indonesia. Harapannya, Deheng House dapat menjadi salah satu ruang yang mempertemukan talenta, karya, komunitas, dan penikmat musik dalam satu semangat: mencintai, menjaga, dan membawa musik Indonesia terus melangkah ke depan,” tutup Amaliah Ananda Abadi.

Konser “Tribute to 2D” bukan hanya sebuah konser nostalgia tetapi juga merupakan perhelatan musik yang penuh dengan rasa respect plus penghormatan buat para legenda musik Indonesia pada umumnya dan 2D khususnya. (FE)

Niat berdiplomasi budaya, Tantowi Yahya siap tur Eropa

0

Indonesia memperkuat diplomasi budayanya di Eropa melalui rangkaian konser “Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia” yang akan dibawakan Ambassador Tantowi Yahya bersama Thomshell Band di Norwegia, Spanyol, dan Belanda pada 24 Agustus hingga 7 September 2026.

Tantowi Yahya
Tantowi Yahya

Program Tantowi Yahya ini menggabungkan promosi budaya, pariwisata, dan investasi Indonesia dalam satu panggung diplomasi publik. “Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia” merupakan pertunjukan musik yang menggabungkan lagu-lagu Indonesia, lagu daerah, karya internasional, serta narasi budaya yang memperkenalkan keragaman Indonesia kepada audiens global.

Program ini dirancang sebagai sarana diplomasi budaya yang menjembatani dialog antarbangsa melalui bahasa universal musik. Penampilan tahun ini menjadi tahun ketiga berturut-turut bagi Ambassador Tantowi Yahya tampil di Santa Susanna, Spanyol, menunjukkan kepercayaan dan apresiasi yang terus tumbuh dari audiens internasional terhadap diplomasi budaya Indonesia.

Rangkaian konser Tantowi Yahya akan diselenggarakan di tiga panggung: ● 24 Agustus 2026 — Victoria National Jazz Scene, Oslo ● 28 Agustus, 31 Agustus, 1 September 2026 — Hotel Indalo Park Santa Susanna, Barcelona, Spanyol ● 4 September 2026 — Resepsi Diplomatik KBRI Den Haag, Wisma Duta RI, Kerkeboslaan 2, 2243 CM Wassenaar Berbeda dari konser musik pada umumnya, “Strings of Equator” merupakan platform diplomasi yang mengintegrasikan promosi budaya, pariwisata, dan investasi Indonesia.

Tantowi Yahya
Tantowi Yahya

Program ini ditargetkan dapat membangkitkan ketertarikan wisatawan Eropa untuk menjadikan Indonesia sebagai destinasi prioritas, serta menanamkan persepsi positif tentang Indonesia sebagai mitra investasi yang terbuka dan menjanjikan.

“Musik adalah jembatan paling universal antarbangsa. Melalui ‘Strings of Equator’, kami ingin menyampaikan bahwa Indonesia bukan hanya negara dengan kekayaan budaya yang luar biasa, tetapi juga mitra strategis yang siap berdialog dengan dunia, baik dalam ranah pariwisata maupun investasi,” ujar Amb. Tantowi Yahya, Ketua Delegasi misi ini.

Misi diselenggarakan dalam kerangka kerja sama resmi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Oslo dan KBRI di Den Haag, menjadikannya bagian dari agenda diplomasi publik Republik Indonesia di kawasan Eropa Utara dan Eropa Barat. “Strings of Equator : A Musical Journey to Indonesia” mendapatkan dukungan strategis dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Dana Indonesiana, program pemanfaatan hasil kelola Dana Abadi Kebudayaan yang dirancang untuk memfasilitasi kegiatan budaya berdampak strategis di tingkat internasional.

“Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia”
“Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia”

Kemitraan strategis juga terjalin dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. sebagai mitra strategis misi ini. Keterlibatan BRI mempertegas komitmen bank nasional terbesar Indonesia dalam mendukung promosi Indonesia di tingkat global, sekaligus memperluas narasi BRI dari ekosistem keuangan domestik menuju kehadiran aktif di panggung diplomasi internasional. Dukungan turut hadir dari PT Pertamina (Persero) yang memperkuat komposisi kemitraan multi-sektor dalam misi ini.

Keterlibatan Pertamina menempatkan perusahaan energi nasional sebagai bagian dari narasi Indonesia yang siap menjadi mitra strategis di panggung Eropa, khususnya di Norwegia dan Belanda yang memiliki ekosistem industri energi yang matang.

Kemitraan strategis juga terjalin dengan Yayasan Kesetiakawanan dan Keadilan Sosial, yang turut mendukung terselenggaranya misi diplomasi budaya ini sebagai bentuk komitmen bersama untuk mengangkat nama Indonesia di panggung internasional melalui jalur seni dan budaya.

“Dukungan dari Kementerian Kebudayaan melalui Dana Indonesiana, BRI, Pertamina, dan Yayasan Kesetiakawanan dan Keadilan Sosial menjadi penanda penting bahwa diplomasi budaya Indonesia kini dijalankan dengan dukungan ekosistem yang utuh dari pemerintah, sektor korporasi, sektor sosial, dan pelaku seni profesional. Inilah model diplomasi yang berkelanjutan dan dapat direplikasi,” tambah Ambassador Tantowi Yahya.

Momentum Hari Merdeka, Melanie Subono rilis “Jiwa Merah Putih”

0
Musisi, aktivis, sekaligus pegiat kemanusiaan Melanie Subono kembali menghadirkan karya penuh makna lewat single terbarunya berjudul “Jiwa Merah Putih”.
Artwork Jiwa Merah Putih
Artwork Jiwa Merah Putih

Bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan Indonesia, lagu Melanie Subono ini menjadi refleksi sekaligus ajakan untuk kembali menghidupkan semangat persatuan yang belakangan terasa semakin memudar.

Berbeda dari lagu-lagu bertema nasionalisme yang identik dengan semangat heroik, “Jiwa Merah Putih” justru mengajak pendengarnya melihat Indonesia dari sisi yang lebih personal. Bagi Melanie Subono, merah putih bukan sekadar bendera atau simbol negara, melainkan sebuah jiwa yang hidup di dalam setiap warga Indonesia.

Dalam proses produksi lagunya, Melanie Subono menggandeng musisi Sumantri serta melibatkan sejumlah talenta muda dari Generasi Z, yaitu Chikita Amanda, Nicolas Christopher Padlan, Yayaq Kurniawan Akbar, dan Melanie Subono sebagai pencipta lagu.

Kolaborasi lintas generasi tersebut melahirkan aransemen yang lebih segar, modern, dan dekat dengan pendengar muda. tanpa menghilangkan karakter kuat yang selama ini melekat pada karya-karya Melanie.

Melanie Subono
Melanie Subono

“Jiwa Merah Putih adalah jiwa yang bebas. Mencintai merah putih dengan kebebasannya, dan menjadi Indonesia di dalam jiwanya.”

Lebih dari sekadar perilisan lagu, “Jiwa Merah Putih” juga akan hadir sebagai sebuah gerakan sosial. Bagi Melanie, ada lirik “Karena aku lahir di sini, ditanah negeriku ini” menjadi bagian paling emosional dalam lagu. Meski lahir di Jerman, ia merasa Indonesia adalah tanah kelahirannya secara batin. Lirik itu merepresentasikan rasa cinta dan keterikatannya yang begitu dalam terhadap Indonesia.

Melanie menyiapkan video musik yang melibatkan Tim Nasional Amputasi Indonesia, sebagai simbol bahwa semangat mencintai Indonesia tidak dibatasi oleh kondisi fisik maupun latar belakang.

Melanie Subono
Melanie Subono

Melanie Subono berharap lagu ini dapat menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan hanya identitas di kartu penduduk, melainkan rumah yang harus terus dijaga bersama.

Dengan “Jiwa Merah Putih”, Melanie Subono kembali menunjukkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang refleksi, kritik, harapan, dan ajakan untuk kembali menemukan jati diri sebagai bangsa.

Dinda Ghania luncurkan musik video single “Half Of Me”

0
Setelah mengajak pendengar menyelami hubungan yang mulai kehilangan arah lewat single ‘Bad Connection’, Dinda Ghania kembali memperkenalkan karya terbarunya.
Artwork Dinda - Half Of Me
Artwork Dinda – Half Of Me

Berjudul ‘Half of Me‘, lagu Dinda Ghania yang resmi dirilis pada 4 Juli 2026 ini mengangkat sisi emosional setelah sebuah hubungan benar-benar berakhir—ketika seseorang bukan hanya kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga merasa kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.

Lagu ‘Half of Me’ bercerita tentang seseorang yang sudah memberikan semua yang dimilikinya untuk orang yang disayang, tetapi pada akhirnya hubungan itu tetap berakhir. Rasanya seperti bukan hanya kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan sebagian dari diri kita,” ujar Dinda Ghania.

Dalam proses kreatif ‘Half of Me’, Dinda Ghania kembali menggandeng Josh Cumbee sebagai music producer sekaligus arranger, serta Gaston Pong sebagai rekan penulis lirik. Kolaborasi yang sebelumnya terjalin lewat ‘Bad Connection’ kembali berlanjut untuk menghadirkan karya dengan karakter musikal yang berbeda.

Jika ‘Bad Connection’ dibangun di atas nuansa modern pop dengan sentuhan dance-pop yang dinamis, ‘Half of Me’ justru hadir dengan pendekatan yang lebih minimalis. Josh Cumbee memilih gitar akustik dan piano sebagai fondasi utama aransemen, sehingga memberi ruang yang lebih luas bagi emosi dalam setiap lirik untuk berbicara.

“Kalau mau dibandingkan sama ‘Bad Connection’, memang terasa berbeda. Dominasi gitar akustik dan piano menjadi fondasi utama lagu ‘Half of Me’, tujuannya untuk memberi ruang yang lebih luas bagi emosi dalam setiap lirik untuk berbicara,” jelas Dinda Ghania.

Aransemen yang sederhana tersebut menjadi kekuatan utama ‘Half of Me’. Permainan melodi dan pilihan notasi yang dibangun Josh Cumbee menghadirkan atmosfer hangat sekaligus melankolis, sementara karakter vokal Dinda Ghania yang dibawakan secara natural membuat setiap bagian lagu terasa lebih intim.

Dinda Ghania
Dinda Ghania

Dinda Ghania menambahkan, ‘Half of Me’ lahir dari keinginannya menceritakan pengalaman kehilangan dari sudut pandang yang lebih personal. Ia berharap lagu tersebut dapat menjadi teman bagi siapa pun yang tengah menghadapi fase kehilangan maupun patah hati.

“Aku berharap lagu ini bisa menemani siapa pun yang sedang ada di fase kehilangan. Nggak apa-apa untuk merasakan semua emosi yang datang, karena itu bagian dari proses. Semoga lagu ini bisa membuat mereka merasa lebih dimengerti dan nggak sendirian,” kata Dinda Ghania.

Perilisan ‘Half of Me’ terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan penampilan Dinda Ghania di Prambanan Jazz Festival 2026. Momentum tersebut menjadi langkah baru Dinda Ghania dalam memperkenalkan karya terbarunya kepada publik yang lebih luas.

Lagu ‘Half of Me’ sudah dapat dinikmati di seluruh digital streaming platform mulai 4 Juli 2026.Untuk format audio visual berupa video klip telah dirilis melalui kanal YouTube Dinda Ghania.

Dinda Ghania
Dinda Ghania

Lahir di Jakarta pada 10 November 2009, Dinda Ghania merupakan penyanyi dan aktris Gen Z yang memulai karier profesionalnya pada 2020. Selain merilis karya orisinal seperti ‘Unfinished‘ (2024), ‘Backseat Memories‘ (2025), ‘Here’s To Us‘ (2025), dan ‘Bad Connection‘ (2026).

Dinda Ghania juga dikenal lewat berbagai kolaborasi bersama musisi lintas generasi, di antaranya Melly Goeslaw, Yovie Widianto, dan Ariel NOAH. Di dunia seni peran, Dinda turut membintangi film Adagium (2023).

Listen! luncurkan single debut sedih berjudul “Lupakan Saja”

0
Setelah melalui perjalanan yang panjang, band Listen! akhirnya memperkenalkan karya perdana mereka kepada publik melalui single berjudul “Lupakan Saja”. Lagu ini menjadi penanda dimulainya perjalanan resmi Listen! di industri musik Indonesia sekaligus menjadi wujud dari mimpi yang telah mereka rawat sejak masa sekolah.
Artwork Listen! Lupakan Saja
Artwork Listen! Lupakan Saja

“Lupakan Saja” dari Listen! mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan banyak orang: tentang keberanian untuk melepaskan sesuatu yang paling kita inginkan, meskipun keputusan tersebut terasa berat. Dalam kehidupan, tidak semua hal dapat dipertahankan. Ada kalanya bertahan hanya akan memperpanjang luka, sementara merelakan justru menjadi jalan terbaik untuk memberikan ruang bagi diri sendiri agar bisa melanjutkan hidup dan menemukan kebahagiaan masing-masing.

Melalui lirik yang sederhana namun penuh makna, Listen! mengajak para pendengar untuk memahami bahwa melepaskan tidak selalu berarti kehilangan. Justru dalam beberapa keadaan, melepaskan adalah bentuk cinta yang paling tulus, sebuah keputusan dewasa yang diambil demi kebaikan bersama.

“Kami ingin lagu ini menjadi teman bagi siapa pun yang sedang berada di titik sulit untuk merelakan. Kami percaya setiap orang pernah berada di fase itu, dan semoga “Lupakan Saja” bisa menjadi pengingat bahwa setelah melepaskan, selalu ada harapan untuk memulai kembali,” ungkap Cavry, vokalis sekaligus komposer Listen!.

Menariknya, meski proses produksi single ini berlangsung sangat cepat, perjalanan lagu tersebut justru menyimpan kisah yang panjang. Mulai dari workshop lagu, proses rekaman, hingga pengerjaan video lirik hanya memakan waktu sekitar satu bulan. Namun di balik proses yang singkat itu, “Lupakan Saja” ternyata telah diciptakan oleh Cavry sekitar sepuluh tahun yang lalu dan baru menemukan momentum yang tepat untuk dirilis sekarang.

Listen!
Listen!

Dalam proses produksinya, Listen! juga menggandeng Gilang AK, seorang audio engineer yang telah berpengalaman menangani berbagai lagu populer di industri musik Indonesia. Sentuhan produksi yang matang berhasil menghadirkan karakter musik yang emosional namun tetap modern, sehingga mampu memperkuat pesan yang ingin disampaikan melalui lagu ini.

Perjalanan Listen! sendiri bisa dibilang cukup unik. Band ini lahir dari persahabatan para personelnya sejak masih duduk di bangku SMP dan SMA pada pertengahan era 1990-an. Di tengah kesibukan masing-masing yang membawa mereka ke berbagai perjalanan hidup, mimpi untuk memiliki band dan merilis karya original tidak pernah benar-benar hilang.

Bertahun-tahun kemudian, mimpi tersebut akhirnya menjadi kenyataan melalui perilisan “Lupakan Saja”. Single ini bukan hanya menjadi debut resmi Listen!, tetapi juga simbol dari konsistensi, persahabatan, dan keyakinan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mewujudkan sebuah impian.

Sebagai komposer utama, Cavry terus menjadi motor kreatif dalam proses penciptaan karya-karya Listen!, sementara chemistry yang telah terbangun selama puluhan tahun membuat setiap personel mampu menghadirkan identitas musikal yang kuat dan jujur.

Listen!
Listen!

Listen! diperkuat oleh: Cavry – Vokal, Devien – Gitar, Angga Foster – Keyboards, Donny – Drums.

Melalui “Lupakan Saja”, Listen! berharap dapat menjangkau para pendengar yang pernah mengalami kehilangan, patah hati, maupun fase sulit dalam hidup. Lebih dari sekadar lagu tentang perpisahan, “Lupakan Saja” adalah tentang keberanian untuk menerima kenyataan, berdamai dengan masa lalu, dan percaya bahwa setiap akhir selalu membuka jalan menuju awal yang baru.

Single “Lupakan Saja” kini telah tersedia di seluruh platform digital streaming musik dan menjadi langkah pertama Listen! dalam menghadirkan karya-karya berikutnya bagi penikmat musik Indonesia.

Para Ex Funky Kopral bentuk “ParaSuami” rilis single debut

0
Industri musik Indonesia kembali kedatangan sebuah nama baru. ParaSuami, yang diperkuat oleh sejumlah mantan personel Funky Kopral, memperkenalkan diri melalui single perdana berjudul “JAMED (Jaman Edan)”.
artwork ParaSuami - Jamed
artwork ParaSuami – Jamed

ParaSuami adalah proyek musik yang mempertemukan sejumlah mantan personel Funky Kopral dalam sebuah identitas baru. Berbekal pengalaman panjang di industri musik Indonesia, ParaSuami hadir sebagai ruang untuk kembali memperdengarkan karya-karya yang telah mereka ciptakan sekaligus menghasilkan karya baru.

Meski hadir dengan nama baru, ParaSuami bukanlah sekadar proyek yang lahir secara tiba-tiba. Para personelnya telah memiliki perjalanan panjang di industri musik Indonesia dan sebelumnya telah menghasilkan berbagai karya serta kerap bermain musik bersama.

Kini, pengalaman tersebut kembali dipertemukan dalam sebuah identitas baru bernama ParaSuami.

“Alasan terbentuknya ParaSuami adalah agar para pecinta musik Indonesia bisa mendengarkan karya-karya yang sudah kami buat jauh sebelum project ini terbentuk.” Terang personil ParaSuami.

Single perdana ParaSuami, “JAMED (Jaman Edan)”, lahir dari pengamatan para personel terhadap berbagai kondisi sosial yang terjadi di Indonesia.

“JAMED” merupakan kependekan dari Jaman Edan, sebuah ungkapan yang dianggap relevan untuk menggambarkan situasi yang mereka lihat saat ini. Salah satu keresahan yang diangkat dalam lagu tersebut adalah fenomena ketika sejumlah pejabat dinilai tidak menjalankan amanah atau tidak memenuhi janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat ketika berkampanye maupun mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.

“Makna dari lagu JAMED itu sendiri memang relate dengan kondisi saat ini, di mana banyak pejabat yang tidak amanah atau tidak sesuai dengan janji-janji saat mereka kampanye atau mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.” tegas ParaSuami.

Keresahan tersebut kemudian dituangkan ke dalam musik sebagai bentuk ekspresi dan suara ParaSuami terhadap realitas sosial di sekitarnya.

Secara musikal, ParaSuami tidak ingin membatasi diri pada satu formula atau warna tertentu. Band ini memilih memainkan musik yang mereka sukai dengan menyesuaikan karakter dan tema dari setiap lagu.

“Secara musikalitas, kami memainkan apa yang kami suka dengan menyesuaikan tema dari isi lagunya.” Ungkap ParaSuami.

ParaSuami adalah proyek musik yang mempertemukan sejumlah mantan personel Funky Kopral dalam sebuah identitas baru. Berbekal pengalaman panjang di industri musik Indonesia, ParaSuami hadir sebagai ruang untuk kembali memperdengarkan karya-karya yang telah mereka ciptakan sekaligus menghasilkan karya baru.

ParaSuami
ParaSuami

“JAMED (Jaman Edan)” merupakan hasil kolaborasi kreatif antara Wisnu Pamungkas dan Fajarudin (Fajar Gimbot). Wisnu Pamungkas bertanggung jawab sebagai pencipta musik, sementara lirik ditulis oleh Fajarudin.

Proses penulisan lagu berangkat dari pengamatan terhadap kondisi sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Apa yang mereka lihat dan rasakan kemudian diterjemahkan menjadi sebuah karya musik yang menjadi pernyataan awal ParaSuami.

Meskipun ParaSuami merupakan nama baru, proses bermusik bersama bukan sesuatu yang asing bagi para personelnya.

Mereka telah cukup sering bermain musik bersama sebelum akhirnya memutuskan untuk membentuk ParaSuami. Karena itu, proses membangun chemistry dalam band relatif berjalan tanpa hambatan berarti.

“Untuk tantangannya hampir tidak ada, karena kami memang sudah sering main bareng sebelum membentuk brand baru yaitu ParaSuami.” Ujar ParaSuami.

Pengalaman panjang tersebut menjadi fondasi penting bagi ParaSuami dalam menjalankan proyek baru ini.

Bagi ParaSuami, “JAMED (Jaman Edan)” bukan sekadar single perdana, tetapi merupakan langkah pertama untuk memperkenalkan identitas dan gagasan mereka kepada pecinta musik Indonesia.

ParaSuami ingin terus menjadikan musik sebagai medium untuk menyuarakan isi hati, merespons berbagai kondisi di sekitar, sekaligus mengekspresikan gagasan melalui karya.

“JAMED menjadi awal bagi ParaSuami untuk memberitahu kepada pecinta musik Indonesia bahwa kami akan terus menyuarakan isi hati kami dan mengekspresikannya dalam bentuk karya musik.”

Setelah “JAMED”, ParaSuami telah mempersiapkan single berikutnya dan berencana melanjutkan perjalanan mereka dengan sebuah mini album.

“Rencana ke depan bakal ada single berikutnya dan kami akan merilis mini album. Semoga semuanya lancar dan terlaksana tanpa hambatan.” pungkas ParaSuami.

CREDIT

Artist: ParaSuami
Single: JAMED (Jaman Edan)

Pencipta Lagu: Wisnu Pamungkas
Pencipta Lirik: Fajarudin (Fajar Gimbot)
Arranger: Wisnu Pamungkas, Robbi Wibowo, Arif Handoko
Producer: Bayu Randu, Robbi Wibowo
Co-Producer: Wisnu Pamungkas
Executive Producer: Bayu Randu