Sabtu malam, 20 Juni 2026, “Buitenjazz Meet The Legends” digelar, ada sesuatu yang berbeda dari konser-konser Buitenjazz biasanya. Ratusan penonton yang memadati kursi, sebagian besar datang berpakaian semi-formal, sebagian lagi terang-terangan menyeka air mata bahkan sebelum satu not pun dimainkan, sepertinya mereka tahu bahwa malam itu bukan sekadar sebuah pertunjukan musik. Itu adalah reuni. Reuni antara mereka dan kenangan yang selama ini hanya hidup di kaset, di playlist, di sudut-sudut ingatan yang paling hangat.

“Buitenjazz Meet The Legends”, dengan mengusung tema An Intimate Jazz Rendezvous yang dihelat oleh Buitenfest di bawah arahan Event Director Nanang Yuswanto, menjadi salah satu momen paling berkesan dalam kalender musik jazz Indonesia tahun ini. Tiket nyaris habis terjual, sebuah awal yang seharusnya tidak mengejutkan lagi, mengingat nama-nama yang diusung ke atas panggung adalah Ermy Kullit, Deddy Dhukun, dan Mus Mujiono.
Salah satu keputusan artistik yang paling berani dan paling berhasil dalam “Buitenjazz Meet The Legends” adalah pilihan untuk tidak membuat satu panggung yang sama untuk ketiga legenda. Setiap maestro dihadirkan dalam ruang estetikanya sendiri.
Ermy Kullit membuka malam Buitenjazz dengan The Velvet Intimacy, panggung minimalis yang ditransformasikan menjadi sebuah jazz club New York era 1930-an, lengkap dengan tekstur kain beludru, lampu rendah merah marun, dan atmosfer yang terasa begitu intim sampai penonton di baris belakang pun merasa duduk persis di depan sang diva.

Saat Ermy membuka suara untuk melantunkan baris lirik pertamanya, keheningan sempat menggantung beberapa detik sebelum akhirnya pecah oleh gemuruh tepuk tangan dan teriakan penonton. Enam hit sepanjang masa dibawakan dalam aransemen kuratorial yang mahal dan elegan. Istimewanya, pada repertoar lagu “Tergoda“, kehadiran koreografi dari talent dancer sengaja diselipkan untuk memberi kedalaman dimensi visual, mempertegas emosi dan gairah yang tersimpan di balik lirik lagunya.
Kejutan terbesar yang tidak disangka audiens malam itu terjadi setelah jeda antar-segmen. Transisi dari set Ermy Kullit menuju Deddy Dhukun pada awalnya terlihat datar, namun disitu letak kejutannya. Pergantian set stage terjadi sangat teatrikal dan mulus (seamless) pada saat Deddy Dhukun membawakan medley ‘Puji Syukur’ memasuki ‘Sakura’ dan ‘Semua Menjadi Satu’; tirai beludru yang semula menjadi latar belakang keintiman panggung Ermy Kullit, mendadak runtuh dalam hitungan detik lewat teknik kabuki drop yang dramatis seiring dengan aransemen musik yang diramu oleh sang Music Director. Proses jatuhnya kain beludru tersebut sarat akan konsep pertunjukan yang sophisticated dengan kompleksitas kreatif dan tingkat kepresisian yang tinggi. Perpindahan lanskap visual ini terjadi secara halus tanpa merusak mood penonton yang sedang larut dalam narasi yang dibangun.
Dari balik gestur teatrikal turunnya tirai itulah konsep The Luminous Realm Deddy Dhukun dimulai. Ini adalah sebuah ruang multisensori yang mengawinkan dinamika konten visual pada layar LED dengan permainan tata cahaya atmosferik yang presisi. 6 karya abadi yang dihadirkan Deddy Dhukun malam itu bukan lagi sekadar untuk memicu nostalgia telinga, melainkan dirasakan oleh seluruh indra. Kedalaman rasa ini semakin pekat saat nomor “Oh Yaa” dibawakan, di mana interaksi para penari di atas panggung bergaya broadway yang berhasil menerjemahkan energi dan denyut lagu menjadi sebuah gerakan yang hidup.

Sebagai pemuncak malam itu, Mus Mujionio dihadirkan dengan konsep Urban Expression: sebuah interpretasi modern yang memadukan estetika industrial sebagai ‘kerangka’ dan nuansa retro sebagai jiwanya. Total 8 hits dibawakan Mus Mujiono dengan dengan sangat apik dan penuh energi bahkan di usia yang tidak muda lagi; sebuah masterclass dari seorang maestro! Suara khas dan permainan gitar yang khas dari sang virtuoso membuktikan sekali lagi mengapa nama Mus Mujiono selalu ditulis dengan huruf kapital dalam lembar sejarah musik jazz tanah air.
Untuk sebuah perhelatan perdana berskala medium-besar, catatan jumlah penonton yang mendekati target saja dianggap sebagai puncak pencapaian. Namun bagi tim di balik layar, keberhasilan ini justru menjadi babak pembuka dari sebuah perjalanan yang lebih panjang.
Begitu malam pertunjukan usai, gelombang pesan langsung membanjiri kanal-kanal media sosial Buitenjazz. Menariknya, antusiasme ini tidak hanya datang dari publik Bogor atau kawasan Jabodetabek saja. Permintaan mulai mengalir dari kota-kota besar lain, sudut-sudut kota yang rupanya menyimpan kerinduan mendalam akan pertunjukan musikal dengan kaliber sedemikian rupa. Pertanyaan yang masuk pun seragam: “Kapan giliran kota kami?”

Nanang Yuswanto selaku Event Director, bersama dua inisiator Buitenjazz lainnya, Jogi Hutabarat dan Triono Pudji Susetio (yang juga bertindak sebagai Music Director), mengakui bahwa respons publik ini bergerak jauh melampaui ekspektasi awal mereka. Buitenjazz yang konsisten merawat ekosistem jazz lokal sejak pertengahan 2025 lewat gerakan ‘Around The City’ bukan sekadar sukses menyajikan format konser premium yang belum pernah ada di Bogor sebelumnya. Lebih dari itu, mereka secara tidak sengaja berhasil memetakan sebuah dahaga pasar yang lama tidak terpuaskan: adanya kebutuhan nyata dari komunitas penikmat jazz dewasa di berbagai kota besar Indonesia yang rindu akan suguhan musik yang benar-benar matang, intim, dan berkelas.
Di balik kompleksitas elemen kreatif yang tersaji di atas panggung, terdapat sistem kerja operasional yang bergerak sesuai dengan alur kerja yang matang terencana di area belakang layar. Estetika dan kemegahan tiga set stage Buitenjazz Meet The Legends dapat tersaji dengan rapi karena tata kelola produksi yang mengawal detail pertunjukan secara ketat, detik demi detik, yang semuanya diorkestrasi oleh Agustinus Cahyono selaku Show Director, yang memegang kendali dinamika pergerakan di panggung dengan tidak kurang dari 100 treatment of checkpoint. Setiap transisi, pergantian babak, hingga detail eksekusi mekanis dikawal secara presisi oleh Bima Wilami selaku Show Caller untuk memastikan tidak ada ruang bagi kesalahan sekecil apa pun.
Kemewahan Buitenjazz Meet The Legends tidak bisa dipisahkan dari keandalan infrastruktur produksinya. Sebagai “menu utama” pertunjukan, sektor tata suara mendapatkan dukungan sepenuhnya dari IMS Indonesia dengan sistem audio JBL untuk menjamin kualitas repoduksi suara sebagaimana mestinya.

Menyempurnakan aspek audio, RedSun Lighting hadir sebagai elemen kreatif pendukung yang membangun atmosfer panggung dan emosi penonton lewat permainan cahaya yang dinamis. Kepercayaan besar pada kolaborasi teknis ini menjadi kunci sukses di balik kualitas pertunjukan yang tanpa kompromi.





















