Musisi, aktivis, sekaligus pegiat kemanusiaan Melanie Subono kembali menghadirkan karya penuh makna lewat single terbarunya berjudul “Jiwa Merah Putih”.
Artwork Jiwa Merah Putih
Bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan Indonesia, lagu Melanie Subono ini menjadi refleksi sekaligus ajakan untuk kembali menghidupkan semangat persatuan yang belakangan terasa semakin memudar.
Berbeda dari lagu-lagu bertema nasionalisme yang identik dengan semangat heroik, “Jiwa Merah Putih” justru mengajak pendengarnya melihat Indonesia dari sisi yang lebih personal. Bagi Melanie Subono, merah putih bukan sekadar bendera atau simbol negara, melainkan sebuah jiwa yang hidup di dalam setiap warga Indonesia.
Dalam proses produksi lagunya, Melanie Subono menggandeng musisi Sumantri serta melibatkan sejumlah talenta muda dari Generasi Z, yaitu Chikita Amanda, Nicolas Christopher Padlan, Yayaq Kurniawan Akbar, dan Melanie Subono sebagai pencipta lagu.
Kolaborasi lintas generasi tersebut melahirkan aransemen yang lebih segar, modern, dan dekat dengan pendengar muda. tanpa menghilangkan karakter kuat yang selama ini melekat pada karya-karya Melanie.
Melanie Subono
“Jiwa Merah Putih adalah jiwa yang bebas. Mencintai merah putih dengan kebebasannya, dan menjadi Indonesia di dalam jiwanya.”
Lebih dari sekadar perilisan lagu, “Jiwa Merah Putih” juga akan hadir sebagai sebuah gerakan sosial. Bagi Melanie, ada lirik “Karena aku lahir di sini, ditanah negeriku ini” menjadi bagian paling emosional dalam lagu. Meski lahir di Jerman, ia merasa Indonesia adalah tanah kelahirannya secara batin. Lirik itu merepresentasikan rasa cinta dan keterikatannya yang begitu dalam terhadap Indonesia.
Melanie menyiapkan video musik yang melibatkan Tim Nasional Amputasi Indonesia, sebagai simbol bahwa semangat mencintai Indonesia tidak dibatasi oleh kondisi fisik maupun latar belakang.
Melanie Subono
Melanie Subono berharap lagu ini dapat menjadi pengingat bahwa Indonesia bukan hanya identitas di kartu penduduk, melainkan rumah yang harus terus dijaga bersama.
Dengan “Jiwa Merah Putih”, Melanie Subono kembali menunjukkan bahwa musik bukan hanya hiburan, tetapi juga ruang refleksi, kritik, harapan, dan ajakan untuk kembali menemukan jati diri sebagai bangsa.
Setelah mengajak pendengar menyelami hubungan yang mulai kehilangan arah lewat single ‘Bad Connection’, Dinda Ghania kembali memperkenalkan karya terbarunya.
Artwork Dinda – Half Of Me
Berjudul ‘Half of Me‘, lagu Dinda Ghania yang resmi dirilis pada 4 Juli 2026 ini mengangkat sisi emosional setelah sebuah hubungan benar-benar berakhir—ketika seseorang bukan hanya kehilangan orang yang dicintai, tetapi juga merasa kehilangan sebagian dari dirinya sendiri.
“Lagu ‘Half of Me’ bercerita tentang seseorang yang sudah memberikan semua yang dimilikinya untuk orang yang disayang, tetapi pada akhirnya hubungan itu tetap berakhir. Rasanya seperti bukan hanya kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan sebagian dari diri kita,” ujar Dinda Ghania.
Dalam proses kreatif ‘Half of Me’, Dinda Ghania kembali menggandeng Josh Cumbee sebagai music producer sekaligus arranger, serta Gaston Pong sebagai rekan penulis lirik. Kolaborasi yang sebelumnya terjalin lewat ‘Bad Connection’ kembali berlanjut untuk menghadirkan karya dengan karakter musikal yang berbeda.
Jika ‘Bad Connection’ dibangun di atas nuansa modern pop dengan sentuhan dance-pop yang dinamis, ‘Half of Me’ justru hadir dengan pendekatan yang lebih minimalis. Josh Cumbee memilih gitar akustik dan piano sebagai fondasi utama aransemen, sehingga memberi ruang yang lebih luas bagi emosi dalam setiap lirik untuk berbicara.
“Kalau mau dibandingkan sama ‘Bad Connection’, memang terasa berbeda. Dominasi gitar akustik dan piano menjadi fondasi utama lagu ‘Half of Me’, tujuannya untuk memberi ruang yang lebih luas bagi emosi dalam setiap lirik untuk berbicara,” jelas Dinda Ghania.
Aransemen yang sederhana tersebut menjadi kekuatan utama ‘Half of Me’. Permainan melodi dan pilihan notasi yang dibangun Josh Cumbee menghadirkan atmosfer hangat sekaligus melankolis, sementara karakter vokal Dinda Ghania yang dibawakan secara natural membuat setiap bagian lagu terasa lebih intim.
Dinda Ghania
Dinda Ghania menambahkan, ‘Half of Me’ lahir dari keinginannya menceritakan pengalaman kehilangan dari sudut pandang yang lebih personal. Ia berharap lagu tersebut dapat menjadi teman bagi siapa pun yang tengah menghadapi fase kehilangan maupun patah hati.
“Aku berharap lagu ini bisa menemani siapa pun yang sedang ada di fase kehilangan. Nggak apa-apa untuk merasakan semua emosi yang datang, karena itu bagian dari proses. Semoga lagu ini bisa membuat mereka merasa lebih dimengerti dan nggak sendirian,” kata Dinda Ghania.
Perilisan ‘Half of Me’ terasa semakin istimewa karena bertepatan dengan penampilan Dinda Ghania di Prambanan Jazz Festival 2026. Momentum tersebut menjadi langkah baru Dinda Ghania dalam memperkenalkan karya terbarunya kepada publik yang lebih luas.
Lagu ‘Half of Me’ sudah dapat dinikmati di seluruh digital streaming platform mulai 4 Juli 2026.Untuk format audio visual berupa video klip telah dirilis melalui kanal YouTube Dinda Ghania.
Dinda Ghania
Lahir di Jakarta pada 10 November 2009, Dinda Ghania merupakan penyanyi dan aktris Gen Z yang memulai karier profesionalnya pada 2020. Selain merilis karya orisinal seperti ‘Unfinished‘ (2024), ‘Backseat Memories‘ (2025), ‘Here’s To Us‘ (2025), dan ‘Bad Connection‘ (2026).
Dinda Ghania juga dikenal lewat berbagai kolaborasi bersama musisi lintas generasi, di antaranya Melly Goeslaw, Yovie Widianto, dan Ariel NOAH. Di dunia seni peran, Dinda turut membintangi film Adagium (2023).
Setelah melalui perjalanan yang panjang, band Listen! akhirnya memperkenalkan karya perdana mereka kepada publik melalui single berjudul “Lupakan Saja”. Lagu ini menjadi penanda dimulainya perjalanan resmi Listen! di industri musik Indonesia sekaligus menjadi wujud dari mimpi yang telah mereka rawat sejak masa sekolah.
Artwork Listen! Lupakan Saja
“Lupakan Saja” dari Listen! mengangkat tema yang dekat dengan kehidupan banyak orang: tentang keberanian untuk melepaskan sesuatu yang paling kita inginkan, meskipun keputusan tersebut terasa berat. Dalam kehidupan, tidak semua hal dapat dipertahankan. Ada kalanya bertahan hanya akan memperpanjang luka, sementara merelakan justru menjadi jalan terbaik untuk memberikan ruang bagi diri sendiri agar bisa melanjutkan hidup dan menemukan kebahagiaan masing-masing.
Melalui lirik yang sederhana namun penuh makna, Listen! mengajak para pendengar untuk memahami bahwa melepaskan tidak selalu berarti kehilangan. Justru dalam beberapa keadaan, melepaskan adalah bentuk cinta yang paling tulus, sebuah keputusan dewasa yang diambil demi kebaikan bersama.
“Kami ingin lagu ini menjadi teman bagi siapa pun yang sedang berada di titik sulit untuk merelakan. Kami percaya setiap orang pernah berada di fase itu, dan semoga “Lupakan Saja” bisa menjadi pengingat bahwa setelah melepaskan, selalu ada harapan untuk memulai kembali,” ungkap Cavry, vokalis sekaligus komposer Listen!.
Menariknya, meski proses produksi single ini berlangsung sangat cepat, perjalanan lagu tersebut justru menyimpan kisah yang panjang. Mulai dari workshop lagu, proses rekaman, hingga pengerjaan video lirik hanya memakan waktu sekitar satu bulan. Namun di balik proses yang singkat itu, “Lupakan Saja” ternyata telah diciptakan oleh Cavry sekitar sepuluh tahun yang lalu dan baru menemukan momentum yang tepat untuk dirilis sekarang.
Listen!
Dalam proses produksinya, Listen! juga menggandeng Gilang AK, seorang audio engineer yang telah berpengalaman menangani berbagai lagu populer di industri musik Indonesia. Sentuhan produksi yang matang berhasil menghadirkan karakter musik yang emosional namun tetap modern, sehingga mampu memperkuat pesan yang ingin disampaikan melalui lagu ini.
Perjalanan Listen! sendiri bisa dibilang cukup unik. Band ini lahir dari persahabatan para personelnya sejak masih duduk di bangku SMP dan SMA pada pertengahan era 1990-an. Di tengah kesibukan masing-masing yang membawa mereka ke berbagai perjalanan hidup, mimpi untuk memiliki band dan merilis karya original tidak pernah benar-benar hilang.
Bertahun-tahun kemudian, mimpi tersebut akhirnya menjadi kenyataan melalui perilisan “Lupakan Saja”. Single ini bukan hanya menjadi debut resmi Listen!, tetapi juga simbol dari konsistensi, persahabatan, dan keyakinan bahwa tidak ada kata terlambat untuk mewujudkan sebuah impian.
Sebagai komposer utama, Cavry terus menjadi motor kreatif dalam proses penciptaan karya-karya Listen!, sementara chemistry yang telah terbangun selama puluhan tahun membuat setiap personel mampu menghadirkan identitas musikal yang kuat dan jujur.
Melalui “Lupakan Saja”, Listen! berharap dapat menjangkau para pendengar yang pernah mengalami kehilangan, patah hati, maupun fase sulit dalam hidup. Lebih dari sekadar lagu tentang perpisahan, “Lupakan Saja” adalah tentang keberanian untuk menerima kenyataan, berdamai dengan masa lalu, dan percaya bahwa setiap akhir selalu membuka jalan menuju awal yang baru.
Single “Lupakan Saja” kini telah tersedia di seluruh platform digital streaming musik dan menjadi langkah pertama Listen! dalam menghadirkan karya-karya berikutnya bagi penikmat musik Indonesia.
Industri musik Indonesia kembali kedatangan sebuah nama baru. ParaSuami, yang diperkuat oleh sejumlah mantan personel Funky Kopral, memperkenalkan diri melalui single perdana berjudul “JAMED (Jaman Edan)”.
artwork ParaSuami – Jamed
ParaSuami adalah proyek musik yang mempertemukan sejumlah mantan personel Funky Kopral dalam sebuah identitas baru. Berbekal pengalaman panjang di industri musik Indonesia, ParaSuami hadir sebagai ruang untuk kembali memperdengarkan karya-karya yang telah mereka ciptakan sekaligus menghasilkan karya baru.
Meski hadir dengan nama baru, ParaSuami bukanlah sekadar proyek yang lahir secara tiba-tiba. Para personelnya telah memiliki perjalanan panjang di industri musik Indonesia dan sebelumnya telah menghasilkan berbagai karya serta kerap bermain musik bersama.
Kini, pengalaman tersebut kembali dipertemukan dalam sebuah identitas baru bernama ParaSuami.
“Alasan terbentuknya ParaSuami adalah agar para pecinta musik Indonesia bisa mendengarkan karya-karya yang sudah kami buat jauh sebelum project ini terbentuk.” Terang personil ParaSuami.
Single perdana ParaSuami, “JAMED (Jaman Edan)”, lahir dari pengamatan para personel terhadap berbagai kondisi sosial yang terjadi di Indonesia.
“JAMED” merupakan kependekan dari Jaman Edan, sebuah ungkapan yang dianggap relevan untuk menggambarkan situasi yang mereka lihat saat ini. Salah satu keresahan yang diangkat dalam lagu tersebut adalah fenomena ketika sejumlah pejabat dinilai tidak menjalankan amanah atau tidak memenuhi janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat ketika berkampanye maupun mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.
“Makna dari lagu JAMED itu sendiri memang relate dengan kondisi saat ini, di mana banyak pejabat yang tidak amanah atau tidak sesuai dengan janji-janji saat mereka kampanye atau mencalonkan diri sebagai wakil rakyat.” tegas ParaSuami.
Keresahan tersebut kemudian dituangkan ke dalam musik sebagai bentuk ekspresi dan suara ParaSuami terhadap realitas sosial di sekitarnya.
Secara musikal, ParaSuami tidak ingin membatasi diri pada satu formula atau warna tertentu. Band ini memilih memainkan musik yang mereka sukai dengan menyesuaikan karakter dan tema dari setiap lagu.
“Secara musikalitas, kami memainkan apa yang kami suka dengan menyesuaikan tema dari isi lagunya.” Ungkap ParaSuami.
ParaSuami adalah proyek musik yang mempertemukan sejumlah mantan personel Funky Kopral dalam sebuah identitas baru. Berbekal pengalaman panjang di industri musik Indonesia, ParaSuami hadir sebagai ruang untuk kembali memperdengarkan karya-karya yang telah mereka ciptakan sekaligus menghasilkan karya baru.
ParaSuami
“JAMED (Jaman Edan)” merupakan hasil kolaborasi kreatif antara Wisnu Pamungkas dan Fajarudin (Fajar Gimbot). Wisnu Pamungkas bertanggung jawab sebagai pencipta musik, sementara lirik ditulis oleh Fajarudin.
Proses penulisan lagu berangkat dari pengamatan terhadap kondisi sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Apa yang mereka lihat dan rasakan kemudian diterjemahkan menjadi sebuah karya musik yang menjadi pernyataan awal ParaSuami.
Meskipun ParaSuami merupakan nama baru, proses bermusik bersama bukan sesuatu yang asing bagi para personelnya.
Mereka telah cukup sering bermain musik bersama sebelum akhirnya memutuskan untuk membentuk ParaSuami. Karena itu, proses membangun chemistry dalam band relatif berjalan tanpa hambatan berarti.
“Untuk tantangannya hampir tidak ada, karena kami memang sudah sering main bareng sebelum membentuk brand baru yaitu ParaSuami.” Ujar ParaSuami.
Pengalaman panjang tersebut menjadi fondasi penting bagi ParaSuami dalam menjalankan proyek baru ini.
Bagi ParaSuami, “JAMED (Jaman Edan)” bukan sekadar single perdana, tetapi merupakan langkah pertama untuk memperkenalkan identitas dan gagasan mereka kepada pecinta musik Indonesia.
ParaSuami ingin terus menjadikan musik sebagai medium untuk menyuarakan isi hati, merespons berbagai kondisi di sekitar, sekaligus mengekspresikan gagasan melalui karya.
“JAMED menjadi awal bagi ParaSuami untuk memberitahu kepada pecinta musik Indonesia bahwa kami akan terus menyuarakan isi hati kami dan mengekspresikannya dalam bentuk karya musik.”
Setelah “JAMED”, ParaSuami telah mempersiapkan single berikutnya dan berencana melanjutkan perjalanan mereka dengan sebuah mini album.
“Rencana ke depan bakal ada single berikutnya dan kami akan merilis mini album. Semoga semuanya lancar dan terlaksana tanpa hambatan.” pungkas ParaSuami.
Setelah sukses lewat single “Jangan Paksa Rindu” yang meraih 200 juta stream secara akumulatif di berbagai platform musik digital serta viral di media sosial, Ifan Seventeen kembali menghadirkan lagu “Apa Kabar” dalam versi terbaru.
Artwork “Apa kabar” Ifan Seventeen
Lagu yang ditulis oleh Ifan Seventeen, Opik Kurdi, dan Relando Riyandi ini adalah sebuah lagu yang menggambarkan seseorang yang belum benar-benar mampu menerima kepergian orang yang dicintainya. Ditengah rasa kehilangan, ia masih terus bertanya tentang kabar seseorang yang telah pergi dan menyimpan harapan bahwa orang tersebut akan kembali.
Sebelumnya lagu ini pernah dirilis dan menjadi salah satu lagu yang ada di album pertama Ifan Seventeen yang berjudul “Ressonance” pada 9 Januari 2026 lalu. Namun kali ini, lagu “Apa Kabar” ini kembali dirilis ulang dengan versi yang berbeda. “Apa Kabar (Alternative Version)” hadir dengan aransemen yang lebih dalam dan emosional, sehingga membuat setiap lirik lagu di versi ini terasa semakin dekat dengan pendengar.
“Memang versi terbaru ini disajikan melalui pendekatan musikal yang lebih matang dan mendalam. Aransemen musiknya dibangun untuk semakin memperkuat suasana kesepian, kerinduan serta kepasrahan yang terdapat di dalam lirik lagunya”, ucap Ifan tentang single barunya.
Ifan Seventeen
Vokal khas Ifan Seventeen tetap menjadi pusat perhatian dari lagu ini, rasanya membawa pendengar masuk ke dalam cerita tentang seseorang yang telah menurunkan egonya, tetapi masih belum berhasil membawa orang yang dicintainya kembali.
“Lagu ini bukan sekadar menghadirkan lagu lama dengan kemasan baru. Namun versi baru ini menjadi sebuah interpretasi yang menawarkan pengalaman mendengarkan berbeda, lebih intim, reflektif dan emosional dibandingkan versi sebelumnya”, jelas Ifan.
Ifan Seventeen
Kehadiran lagu “Apa Kabar (Alternative Version)” ini juga diharapkan menambah rentetan kesuksesan Ifan Seventen sebagai salah satu solois pria terbaik di Indonesia. Kini lagu ini sudah dapat didengarkan dan dinikmati diseluruh platform musik digital sejak 31 Juli 2026 lalu. Video Lirik juga sudah bisa ditonton di akun Youtube Official Ifan Seventeen dan Royal Prima Musikindo.
Solois pendatang baru Rocha Gibson bersiap meluncurkan single perdana bertajuk “Dibalik Tawaku”. Dirilsinya single ini merupakan debut kehadiran Ocha di industri musik nasional setelah selama ini Ocha hanya menjadi penikmat musik Indonesia saja akibat kesibukannya mengurusi bisnis – bisnisnya .
Rocha Gibson
Lagu “Dibalik Tawaku” adalah lagu yang ditulis Rocha Gibson bersama produsernya, Ian Chaniago. Lirik dari lagu bergenre slow rock tersebut di tulis Ocha menjadi karya yang sangat personal karena lahir dari perjalanan hidup yang selama ini hanya disimpannya sendiri.
“Dibalik Tawaku adalah cerita perjalanan hidup saya dari dulu sampai berada di posisi sekarang. Saya membuat lagu ini supaya bisa menjadi kenangan dan suatu saat bisa saya wariskan kepada anak-anak saya. Semua kata-katanya berasal dari hati saya sendiri,” ujar Rocha Gibson saat ditemui di D’Ros House, Pelabuhan Ratu, yang juga merupakan villa pribadinya, Kamis (30/7/2026).
“Inspirasi lagu tersebut datang secara spontan, bangun tidur, saya langsung menuliskan lirik yang muncul di pikirannya. tulisan tersebut kemudian dikirimkan kepada tim musik untuk diolah menjadi sebuah lagu utuh”, terang Rocha Gibson.
Rocha Gibson proses syuting single debut
Sementara itu, Ian Chaniago selaku produser mengaku surprise ketika Ocha mengirimkan lirik yang dia buat untuk dijadikan bahan membuat lagu.
“Berawal dari Rocha Gibson cerita bahwa dia punya lirik lagu, minta tolong dibuatkan jadi sebuah lagu, saya berusaha untuk tetap tidak merubah banyak lirik yang diberikan oleh Ocha. Ini yang menjadi tantangannya buat saya. Lalu kalau ditanya kenapa aransemen musiknya di buat Slow Rock? Ini request dari Ocha sendiri, karena dia suka lagu – lagu bergenre ini”, tutur Ian Chaniago.
“Saya memang orangnya melankolis. Lagu slow rock biasanya banyak bercerita tentang kesedihan dan perjalanan hidup. Saya merasa genre ini paling sesuai dengan karakter suara dan suasana hati saya,” jelasnya.
Rocha Gibson proses syuting single debut
Bagi Rocha Gibson, merilis single bukan sekadar memenuhi impian lama, tetapi juga menjadi cara untuk mengabadikan kisah hidup dalam sebuah karya yang dapat dikenang oleh keluarganya di masa depan. Seluruh lirik dalam lagu tersebut ditulis berdasarkan pengalaman pribadinya, mulai dari berbagai tantangan hingga proses yang membawanya berada di titik kehidupannya saat ini.
“Saya ingin sekali membuat sebuah karya di masa hidup saya dan saya sangat tertarik untuk menjadikannya lagu -lagu saya sebuah masterpiece”, Ujar Ocha Gibson.
Meski baru pertama kali menulis lagu, Rocha Gibson mengaku tetap membuka diri terhadap berbagai masukan. Ia meminta tim produksinya membantu menyempurnakan lirik agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterjemahkan dengan lebih baik melalui musik.
Dalam proses produksi, kendala terbesar bukan terletak pada rekaman, melainkan pengaturan waktu. Rocha Gibson harus membagi kesibukannya antara Indonesia dan Australia karena turut membantu menjalankan bisnis keluarga milik suaminya. Meski demikian, proses rekaman dapat diselesaikan dalam waktu relatif singkat sebelum dirinya kembali ke Australia.
Rocha Gibson proses syuting single debut
“Sejak awal, Rocha memiliki keinginan besar untuk meninggalkan sebuah karya yang bisa dikenang selama hidupnya. Hal itu membuat saya semakin bersemangat untuk menggarap lagu ini dengan sungguh – sungguh dan menjadikannya sebuah karya yang istimewa, sebuah masterpiece yang bisa dibanggakan bersama,” ungkap Ian Chaniago.
Tak hanya menggarap lagu, Rocha Gibson juga menyiapkan video musik yang mengambil lokasi di Villa D’Ros House, Pelabuhan Ratu, dengan konsep alam terbuka yang tenang dan natural. Konsep tersebut dipilih karena mencerminkan karakter pribadinya yang tidak terlalu nyaman berada di depan kamera maupun menjadi pusat perhatian.
Lokasi persawahan hijau miliknya menjadi latar utama video musik. Bahkan, proses pengambilan gambar sempat ditunda selama beberapa bulan demi menunggu kondisi tanaman padi tumbuh sesuai dengan visual yang diinginkan.
Rocha Gibson
“Saya memang tidak terlalu suka disorot kamera atau difoto. Karena itu saya ingin konsep video klipnya di alam terbuka yang hening dan tenang. Saya bahkan menunggu padi di sawah tumbuh hijau sebelum akhirnya bisa melakukan syuting,” ungkap Rocha.
Melalui single debut “Dibalik Tawaku”, Rocha ingin mengajak pendengar memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan mulus. Menurutnya, setiap orang memiliki ujian dan perjuangan masing-masing sehingga kesabaran, keteguhan, dan keberanian untuk terus melangkah menjadi pesan utama yang ingin ia bagikan.
Single “Dibalik Tawaku” direncanakan rilis pada pertengahan Agustus 2026.
Band rock Wongalas resmi memperkenalkan album perdana bertajuk “Dari Rakjat Oleh Rakjat Oentoek Rakjat” dalam acara peluncuran yang digelar di Dungeon Lounge, Jakarta, Rabu (30/7/2026). Album ini menjadi penanda perjalanan panjang grup tersebut dalam menghadirkan musik yang mengangkat suara masyarakat.
Wongalas Presscon
Album Wongalas berisi 13 lagu itu mengusung nuansa rock dengan karakter yang kuat, dipadukan lirik yang mengangkat berbagai persoalan sosial, semangat persaudaraan, hingga harapan akan masa depan yang lebih baik.
Vokalis Wongalas, Yudith, mengatakan musik bagi grupnya bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk menyuarakan pengalaman dan keresahan yang dirasakan banyak orang.
“Album ini kami persembahkan bagi siapa saja yang terus berjuang, saling menguatkan, dan ingin didengar suaranya,” ujar Yudith Wongalas.
Dalam proses kreatifnya, Wongalas mengangkat empat tema utama, yakni kritik sosial, gerakan anak muda, kecintaan terhadap tanah air dan alam, serta kisah cinta antarmanusia.
Wongalas Presscon
Menariknya, materi album ini telah digarap sejak 2018. Yudith bersama gitaris Opick menghabiskan waktu selama 12 hari di kawasan Puncak, Bogor, untuk menyusun lagu-lagu yang akhirnya masuk ke album tersebut.
Dari sekitar 400 lagu yang telah ditulis Yudith, hanya 13 karya yang lolos proses kurasi. Seluruh proses kreatif dilakukan secara alami di luar studio untuk menjaga nuansa organik dalam musik yang dihasilkan.
Dalam penggarapan album ini, Wongalas juga menggandeng pengusaha muda sekaligus pendiri organisasi GARDAINDO, R. Heri Santoso, sebagai eksekutif produser.
Wongalas sendiri dihuni oleh empat musisi yang telah lama berkecimpung di industri musik Indonesia. Formasi tersebut terdiri atas Yudith sebagai vokalis, Opick pada gitar, Atenk di posisi bass, serta Firdy sebagai drummer.
Wongalas Presscon
Keempat personel membawa pengalaman dari berbagai band yang telah lebih dulu dikenal, sehingga menghasilkan warna musik rock yang kuat dengan lirik yang relevan terhadap kehidupan sehari-hari.
Album “Dari Rakjat Oleh Rakjat Oentoek Rakjat” memuat 13 lagu, yaitu “Aw Aw Aw, Kebablasan, Salah, Siti Maemunah, Telat Puber, Biarkan Orang Bicara, Pasal 33, Adina, Seniman Gila, Pesta Wongalas, Terus Terang Saja (TTS), Uang” dan “Mentari di NKRI”.
Melalui album perdana ini, Wongalas berharap karya mereka dapat menjadi medium yang menyatukan pendengar sekaligus menghadirkan semangat kebersamaan melalui musik rock yang lugas dan penuh makna.
DEHENG HOUSE bersama DMC Production mempersembahkan “TRIBUTE TO 2D”, konser penghormatan terhadap perjalanan karya dan persahabatan dua musisi penting Indonesia, Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra, yang akan digelar pada 26 Agustus 2026 di deCONCERT Room – DEHENG HOUSE, Lantai 4.
Presscon Tribute To 2D
Konser di Deheng House ini menghadirkan Deddy Dhukun sebagai Main Tribute, bersama Wijaya 80, Pesona Tiga Suara, Andien, dan Sandhy Sondoro sebagai Guest Performers yang akan membawakan kembali sejumlah lagu hits dan karya pilihan 2D dalam beragam interpretasi musikal.
2D bukan sekadar kolaborasi dua musisi, tetapi juga cerita tentang persahabatan Deddy Dhukun dan Dian Pramana Poetra yang melahirkan karya-karya berkarakter kuat dalam perjalanan musik Indonesia. Perpaduan pop, jazz, soul, harmoni yang khas, serta lirik yang dekat dengan kehidupan membuat karya mereka tetap dikenang lintas generasi dan bisa disaksikan langsung di Deheng House.
Deddy Dhukun
“TRIBUTE TO 2D” dihadirkan di deheng House bukan semata sebagai nostalgia, melainkan sebagai upaya menjaga warisan musik Indonesia agar terus hidup, dimainkan, dan diperkenalkan kepada generasi baru. Kepergian Dian Pramana Poetra meninggalkan kehilangan besar, namun karya yang diciptakannya bersama Deddy Dhukun tetap hidup. Konser ini menjadi penghormatan terhadap perjalanan tersebut sekaligus perayaan bahwa sebuah karya besar dapat terus menemukan kehidupan baru dari generasi ke generasi.
Pemilihan Guest Performers mewakili karakter dan generasi musikal yang berbeda. Wijaya 80 membawa semangat musik era 1980-an dengan pendekatan segar yang mampu menjembatani nostalgia dan generasi baru. Andien, dengan karakter pop-jazz dan interpretasi musikalnya yang elegan, akan memberikan perspektif baru terhadap kekayaan harmoni karya 2D. Sementara Sandhy Sondoro menghadirkan kekuatan vokal soulful dan emosional yang memberi warna berbeda pada lagu-lagu 2D.
Presscon Tribute To 2D
Salah satu bagian paling personal dalam konser ini adalah kehadiran Pesona Tiga Suara, yang beranggotakan dua putra Deddy Dhukun dan satu putra Dian Pramana Poetra. Kehadiran mereka menjadi simbol kuat dari regenerasi: jika dahulu kedua ayah mereka dipertemukan oleh persahabatan dan musik, kini generasi putra mereka berdiri bersama untuk meneruskan karya dan semangat yang telah diwariskan.
Melalui “TRIBUTE TO 2D”, lagu-lagu yang telah dikenal publik akan hadir kembali dengan interpretasi berbeda tanpa meninggalkan jiwa karya aslinya. Pertemuan Deddy Dhukun dengan musisi lintas generasi menjadikan konser ini bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana sebuah karya dapat terus relevan di masa depan. Bagi DEHENG HOUSE dan DMC Production, TRIBUTE TO 2D merupakan bagian dari komitmen untuk memberikan ruang bagi apresiasi terhadap karya dan sejarah musik Indonesia, sekaligus mendorong regenerasi serta kolaborasi lintas generasi. Melalui deCONCERT Room, DEHENG HOUSE juga ingin membangun sebuah rumah pertunjukan yang menghadirkan kedekatan antara musisi, karya, cerita, dan penonton dalam pengalaman konser yang lebih intim.
Presscon Tribute To 2D
“TRIBUTE TO 2D” membawa satu pesan utama : musisi dapat berganti generasi, tetapi karya yang baik tidak pernah benar-benar pergi. Ia akan terus hidup selama dimainkan, dinyanyikan, dan diwariskan.
Fenomena digital yang telah menguras air mata jutaan pembaca kini siap meledak di layar kaca. WeTV Indonesia bersama Unlimited Production secara resmi memperkenalkan WeTV Original 12 IPA 4, sebuah serial drama remaja yang diadaptasi dari Alternate Universe (AU) viral yang telah meraih lebih dari 35,8 juta tayangan dan 1,3 juta suka di TikTok.
Presscon WeTV Original 12 IPA 4
Menjelang penayangan WeTV Original 12 IPA 4 pada 24 Juli 2026, sebuah acara Exclusive Press Screening digelar di XXI Epicentrum, Jakarta, menghadirkan jajaran pemain bintang dan tim produksi. Mengusung tema berani “Rejects” Fighting for Recognition, serial ini mendobrak stereotip drama sekolah biasa dengan mengangkat kisah perjuangan murid-murid yang dianggap “kelas buangan” untuk mendapatkan pengakuan.
Nayla D. Purnama memerankan karakter ganda, Hanin dan Hana di WeTV Original 12 IPA 4, dalam sebuah penyamaran berbahaya demi menuntaskan janji terakhir sang kembaran untuk menyatukan kembali keluarga mereka yang hancur. Ketegangan semakin memuncak dengan hadirnya Junior Roberts sebagai Jarvis, sang popular boy yang menyimpan sisi pemberontak, dan Sandy Pradana sebagai Joan, musisi misterius yang menjadi pusat debaran hati Hanin.
Di bawah arahan sutradara Dinna Jasanti, serial WeTV Original 12 IPA 4 yang mempunyai durasi 8 episode ini menjanjikan pengalaman emosional yang intens, memadukan persaingan klub tari (dance), pengkhianatan, hingga pencarian jati diri yang sangat relevan dengan generasi muda. Sepanjang penayangan episode pertama, para penggemar dan awak media yang hadir tampak larut mengikuti alur cerita. Berbagai adegan emosional berhasil menyentuh perasaan penonton, namun di saat yang sama diselingi komedi segar dari tingkah laku para remaja yang mengundang gelak tawa di dalam studio. Tak hanya itu, beragam aksi kenakalan khas anak sekolah yang ditampilkan juga menghadirkan nuansa nostalgia, mengajak penonton kembali mengenang masa-masa SMA yang penuh warna, persahabatan, dan cerita yang tak terlupakan.
Presscon WeTV Original 12 IPA 4
Mengenai visi besar di balik proyek ini, Febriamy Hutapea (Executive Producer & Country Head WeTV Indonesia) mengatakan WeTV Original 12 IPA 4 merupakan jawaban atas kerinduan penonton akan kisah remaja khususnya masa-masa SMA. Selain itu, series ini sekaligus tantangan bagi WeTV untuk kembali membawa cerita remaja untuk dapat diterima penonton secara global.
“WeTV Original 12 IPA 4 hadir sebagai jawaban bagi penonton yang merindukan cerita remaja berlatar SMA dengan emosi yang jujur dan dekat dengan realitas. Kekuatan utama serial ini bukan
sekadar pada romantisme sekolah, melainkan pada dinamika persahabatan dan keberanian para siswa di kelas ‘buangan’ dalam menghadapi stigma. Namun, lebih dari sekadar drama remaja, serial ini membawa pesan krusial bagi para orang tua. Kita diperlihatkan bagaimana ekspektasi dan ego orang tua sering kali menjadi beban berat yang memengaruhi kesehatan mental anak. Harapan kami, serial ini dapat menjadi ruang refleksi dan membuka pintu komunikasi yang lebih jujur antara anak dan orang tua di rumah.” jelas Febriamy Hutapea.
Presscon WeTV Original 12 IPA 4
Oswin Bonifanz (Produser Unlimited Production) menambahkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam mengadaptasi cerita yang telah lebih dahulu populer adalah menerjemahkan imajinasi para pembaca ke dalam visual yang dapat diterima penonton. Karena itu, proses pemilihan pemain menjadi salah satu tahapan yang paling panjang dan krusial untuk memastikan setiap karakter dapat dihidupkan sesuai ekspektasi penggemar.
“Ini adalah salah satu series dengan cast terbanyak, sehingga butuh waktu panjang untuk memvisualisasikan semua karakter agar sesuai ekspektasi penggemar. Kami melihat profil asli pemain dan bagaimana mereka membawakan karakter di dalam series ini dengan sangat matang agar imajinasi pembaca dapat diterjemahkan dengan baik ke layar kaca,” jelas Oswin Bonifanz.
Mewakili para pemeran utama, Nayla D. Purnama dan Junior Roberts membagikan antusiasme
mereka terhadap proses produksi WeTV Original 12 IPA 4. Keduanya mengungkapkan bahwa keakraban yang terjalin di antara para pemain dan kru menciptakan suasana kerja yang nyaman dan menyenangkan. Chemistry yang terbangun secara alami tersebut membuat seluruh tim semakin bersemangat dalam menghidupkan cerita dan karakter yang ada di dalam serial ini.
Presscon WeTV Original 12 IPA 4
“Banyak sekali kejadian masa SMA yang diangkat ke dalam cerita ini, seperti momen bolos bareng yang kalau divisualisasikan menjadi sangat menarik. Chemistry yang terbangun secara alami di antara pemain dan kru membuat suasana kerja sangat nyaman, dan kami bersemangat menghidupkan karakter yang sudah sangat dicintai ini,” ungkap Nayla antusias.
Jangan lewatkan keseruan kisah masa sekolah dan perjuangan Hanin menembus batas stigma dan menemukan cinta di tengah luka yang retak. WeTV Original “12 IPA 4” tayang mulai 24 Juli 2026, eksklusif hanya di WeTV.
Sabtu malam, 20 Juni 2026, “Buitenjazz Meet The Legends” digelar, ada sesuatu yang berbeda dari konser-konser Buitenjazz biasanya. Ratusan penonton yang memadati kursi, sebagian besar datang berpakaian semi-formal, sebagian lagi terang-terangan menyeka air mata bahkan sebelum satu not pun dimainkan, sepertinya mereka tahu bahwa malam itu bukan sekadar sebuah pertunjukan musik. Itu adalah reuni. Reuni antara mereka dan kenangan yang selama ini hanya hidup di kaset, di playlist, di sudut-sudut ingatan yang paling hangat.
Ermi Kullit On Stage
“Buitenjazz Meet The Legends”, dengan mengusung tema An Intimate Jazz Rendezvous yang dihelat oleh Buitenfest di bawah arahan Event Director Nanang Yuswanto, menjadi salah satu momen paling berkesan dalam kalender musik jazz Indonesia tahun ini. Tiket nyaris habis terjual, sebuah awal yang seharusnya tidak mengejutkan lagi, mengingat nama-nama yang diusung ke atas panggung adalah Ermy Kullit, Deddy Dhukun, dan Mus Mujiono.
Salah satu keputusan artistik yang paling berani dan paling berhasil dalam “Buitenjazz Meet The Legends” adalah pilihan untuk tidak membuat satu panggung yang sama untuk ketiga legenda. Setiap maestro dihadirkan dalam ruang estetikanya sendiri.
Ermy Kullit membuka malam Buitenjazz dengan The Velvet Intimacy, panggung minimalis yang ditransformasikan menjadi sebuah jazz club New York era 1930-an, lengkap dengan tekstur kain beludru, lampu rendah merah marun, dan atmosfer yang terasa begitu intim sampai penonton di baris belakang pun merasa duduk persis di depan sang diva.
Deddy Dhukun On stage
Saat Ermy membuka suara untuk melantunkan baris lirik pertamanya, keheningan sempat menggantung beberapa detik sebelum akhirnya pecah oleh gemuruh tepuk tangan dan teriakan penonton. Enam hit sepanjang masa dibawakan dalam aransemen kuratorial yang mahal dan elegan. Istimewanya, pada repertoar lagu “Tergoda“, kehadiran koreografi dari talent dancer sengaja diselipkan untuk memberi kedalaman dimensi visual, mempertegas emosi dan gairah yang tersimpan di balik lirik lagunya.
Kejutan terbesar yang tidak disangka audiens malam itu terjadi setelah jeda antar-segmen. Transisi dari set Ermy Kullit menuju Deddy Dhukun pada awalnya terlihat datar, namun disitu letak kejutannya. Pergantian set stage terjadi sangat teatrikal dan mulus (seamless) pada saat Deddy Dhukun membawakan medley ‘Puji Syukur’ memasuki ‘Sakura’ dan ‘Semua Menjadi Satu’; tirai beludru yang semula menjadi latar belakang keintiman panggung Ermy Kullit, mendadak runtuh dalam hitungan detik lewat teknik kabuki drop yang dramatis seiring dengan aransemen musik yang diramu oleh sang Music Director. Proses jatuhnya kain beludru tersebut sarat akan konsep pertunjukan yang sophisticated dengan kompleksitas kreatif dan tingkat kepresisian yang tinggi. Perpindahan lanskap visual ini terjadi secara halus tanpa merusak mood penonton yang sedang larut dalam narasi yang dibangun.
Dari balik gestur teatrikal turunnya tirai itulah konsep The Luminous Realm Deddy Dhukun dimulai. Ini adalah sebuah ruang multisensori yang mengawinkan dinamika konten visual pada layar LED dengan permainan tata cahaya atmosferik yang presisi. 6 karya abadi yang dihadirkan Deddy Dhukun malam itu bukan lagi sekadar untuk memicu nostalgia telinga, melainkan dirasakan oleh seluruh indra. Kedalaman rasa ini semakin pekat saat nomor “Oh Yaa” dibawakan, di mana interaksi para penari di atas panggung bergaya broadway yang berhasil menerjemahkan energi dan denyut lagu menjadi sebuah gerakan yang hidup.
Mus Mudjiono On Stage
Sebagai pemuncak malam itu, Mus Mujionio dihadirkan dengan konsep Urban Expression: sebuah interpretasi modern yang memadukan estetika industrial sebagai ‘kerangka’ dan nuansa retro sebagai jiwanya. Total 8 hits dibawakan Mus Mujiono dengan dengan sangat apik dan penuh energi bahkan di usia yang tidak muda lagi; sebuah masterclass dari seorang maestro! Suara khas dan permainan gitar yang khas dari sang virtuoso membuktikan sekali lagi mengapa nama Mus Mujiono selalu ditulis dengan huruf kapital dalam lembar sejarah musik jazz tanah air.
Untuk sebuah perhelatan perdana berskala medium-besar, catatan jumlah penonton yang mendekati target saja dianggap sebagai puncak pencapaian. Namun bagi tim di balik layar, keberhasilan ini justru menjadi babak pembuka dari sebuah perjalanan yang lebih panjang.
Begitu malam pertunjukan usai, gelombang pesan langsung membanjiri kanal-kanal media sosial Buitenjazz. Menariknya, antusiasme ini tidak hanya datang dari publik Bogor atau kawasan Jabodetabek saja. Permintaan mulai mengalir dari kota-kota besar lain, sudut-sudut kota yang rupanya menyimpan kerinduan mendalam akan pertunjukan musikal dengan kaliber sedemikian rupa. Pertanyaan yang masuk pun seragam: “Kapan giliran kota kami?”
Buitenjazz Meet The Legends
Nanang Yuswanto selaku Event Director, bersama dua inisiator Buitenjazz lainnya, Jogi Hutabarat dan Triono Pudji Susetio (yang juga bertindak sebagai Music Director), mengakui bahwa respons publik ini bergerak jauh melampaui ekspektasi awal mereka. Buitenjazz yang konsisten merawat ekosistem jazz lokal sejak pertengahan 2025 lewat gerakan ‘Around The City’ bukan sekadar sukses menyajikan format konser premium yang belum pernah ada di Bogor sebelumnya. Lebih dari itu, mereka secara tidak sengaja berhasil memetakan sebuah dahaga pasar yang lama tidak terpuaskan: adanya kebutuhan nyata dari komunitas penikmat jazz dewasa di berbagai kota besar Indonesia yang rindu akan suguhan musik yang benar-benar matang, intim, dan berkelas.
Di balik kompleksitas elemen kreatif yang tersaji di atas panggung, terdapat sistem kerja operasional yang bergerak sesuai dengan alur kerja yang matang terencana di area belakang layar. Estetika dan kemegahan tiga set stage Buitenjazz Meet The Legends dapat tersaji dengan rapi karena tata kelola produksi yang mengawal detail pertunjukan secara ketat, detik demi detik, yang semuanya diorkestrasi oleh Agustinus Cahyono selaku Show Director, yang memegang kendali dinamika pergerakan di panggung dengan tidak kurang dari 100 treatment of checkpoint. Setiap transisi, pergantian babak, hingga detail eksekusi mekanis dikawal secara presisi oleh Bima Wilami selaku Show Caller untuk memastikan tidak ada ruang bagi kesalahan sekecil apa pun.
Kemewahan Buitenjazz Meet The Legends tidak bisa dipisahkan dari keandalan infrastruktur produksinya. Sebagai “menu utama” pertunjukan, sektor tata suara mendapatkan dukungan sepenuhnya dari IMS Indonesia dengan sistem audio JBL untuk menjamin kualitas repoduksi suara sebagaimana mestinya.
Buitenjazz Meet The Legends
Menyempurnakan aspek audio, RedSun Lighting hadir sebagai elemen kreatif pendukung yang membangun atmosfer panggung dan emosi penonton lewat permainan cahaya yang dinamis. Kepercayaan besar pada kolaborasi teknis ini menjadi kunci sukses di balik kualitas pertunjukan yang tanpa kompromi.